Perang Tersembunyi Iran-Israel: Sektarianisme Syiah-Sunni Retakkan Umat Islam?

Eskalasi militer antara Iran dan Israel telah memicu krisis geopolitik global. Konflik ini juga memperburuk perpecahan sektarian antara kelompok Syiah dan Sunni dalam dunia Islam.
Ironisnya, konflik antara Israel (negara Yahudi) dan Iran (republik Islam Syiah) telah menciptakan aliansi tak terduga.
Beberapa negara Arab Sunni, yang sebelumnya berseteru dengan Israel, kini secara diam-diam bersekutu dengannya.
Konflik Iran-Israel: Ancaman yang Lebih Besar dari Palestina?
Teheran mengklaim perjuangannya melawan Israel adalah pembelaan atas seluruh umat Islam, terutama untuk pembebasan Palestina.
Namun, bagi negara-negara Teluk yang berpenduduk Sunni, seperti Arab Saudi dan UEA, ancaman Iran jauh lebih nyata.
Dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok Syiah di Lebanon, Yaman, Suriah, dan Irak semakin meningkatkan kekhawatiran negara-negara Teluk.
Dr. F. Gregory Gause III dari Texas A&M University menegaskan, bagi negara-negara Teluk Sunni, ambisi hegemoni Iran dan jaringan proksinya lebih mengancam daripada Israel.
Persepsi inilah yang mendorong perjanjian Abraham Accords pada 2020, di mana UEA dan Bahrain menormalisasi hubungan dengan Israel.
Strategi Iran: Melampaui Perpecahan Sektarian
Iran memanfaatkan isu Palestina untuk mengatasi perpecahan sektarian.
Dengan memposisikan diri sebagai pemimpin “Poros Perlawanan”, Iran berupaya menarik simpati publik Arab yang pro-Palestina.
Trita Parsi, analis kebijakan luar negeri, menyebut Iran menggunakan isu Palestina untuk mendapatkan legitimasi di mata publik Arab.
Namun, ini menciptakan dilema bagi pemimpin Arab Sunni. Mereka menghadapi tekanan publik untuk bersikap tegas terhadap Israel.
Di sisi lain, mereka mungkin secara diam-diam diuntungkan oleh tindakan militer Israel yang melemahkan Iran.
Laporan Carnegie Endowment for International Peace pada Juni 2024 menyoroti perbedaan antara sentimen publik pro-Palestina dengan kalkulasi geopolitik para pemimpin yang melihat Iran sebagai ancaman yang lebih besar.
Dampak pada Solidaritas Muslim Global
Perpecahan ini berdampak besar pada panggung internasional.
Organisasi Kerjasama Islam (OKI), yang seharusnya mewakili 57 negara Muslim, seringkali kesulitan menghasilkan respons yang terpadu terhadap krisis di Timur Tengah.
Konflik Iran-Israel bukan hanya soal perebutan kekuasaan regional, tetapi juga memperdalam keretakan internal dunia Islam.
Ketidakmampuan untuk menyatukan pandangan dan tindakan menghadapi ancaman bersama ini melemahkan posisi umat Islam di kancah global.
Masa depan solidaritas Muslim, yang selama ini dirusak oleh perpecahan sektarian, kini semakin diuji oleh kompleksitas geopolitik yang ditimbulkan oleh konflik Iran-Israel.