Site icon Metro Kompas

Tren Childfree di Kota Besar: Pengaruh Media Sosial? Studi BKKBN

Tren Childfree di Kota Besar: Pengaruh Media Sosial? Studi BKKBN

Sumber: Kompas.com

Fenomena childfree, atau pilihan untuk tidak memiliki anak, tengah menjadi perbincangan di Indonesia. Meskipun persentasenya masih terbilang kecil, BKKBN mencatat tren ini kian mendapat perhatian, terutama di kalangan generasi muda perkotaan. Pengaruh media sosial dinilai turut berperan dalam mempopulerkan gaya hidup ini.

Namun, penting untuk memahami bahwa keputusan untuk childfree tidak selalu didasarkan pada penolakan terhadap anak. Berbagai faktor kompleks berperan di dalamnya, dan pemahaman yang komprehensif sangat diperlukan untuk menganalisis fenomena ini secara tepat.

Childfree: Tren Perkotaan yang Dipengaruhi Media Sosial

Deputi Bidang Pengendalian Kependudukan BKKBN, Bonivasius Prasetya Ichtiarto, menyatakan bahwa fenomena childfree di Indonesia memang lebih banyak terjadi di wilayah perkotaan.

Ia menekankan bahwa persentasenya masih sangat kecil, kurang dari 0,01 persen dari total populasi. Boni menambahkan bahwa media sosial berperan penting dalam menyebarkan tren ini.

Tekanan Ekonomi sebagai Faktor Utama Pilihan Childfree

Hasil survei BKKBN menunjukkan bahwa faktor ekonomi menjadi pertimbangan utama bagi pasangan yang memilih childfree.

Bukan karena tidak menginginkan anak, melainkan karena kesulitan finansial dalam membesarkan anak di tengah kondisi ekonomi saat ini. Kenaikan harga barang dan jasa menjadi salah satu tantangan utama.

Dampak Ekonomi Terhadap Keputusan Memiliki Anak

Perubahan paradigma “banyak anak banyak rezeki” kini dipertanyakan.

Di era modern, membesarkan anak membutuhkan biaya yang sangat besar, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan sehari-hari. Hal ini menjadi pertimbangan serius bagi banyak pasangan muda.

Pentingnya Pemantauan Terhadap Tren Childfree

BKKBN menyadari pentingnya memantau tren childfree agar tidak berdampak negatif terhadap angka fertilitas nasional.

Meskipun persentasenya masih rendah, peningkatan yang signifikan dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan generasi penerus bangsa.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan bahwa 8 persen perempuan Indonesia atau sekitar 71.000 orang memilih untuk childfree. Sebagian besar berasal dari Pulau Jawa, khususnya DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten.

Kesimpulannya, fenomena childfree di Indonesia merupakan isu kompleks yang membutuhkan perhatian serius. Meskipun tren ini masih tergolong kecil, pemahaman mendalam terhadap faktor-faktor yang melatarbelakanginya, terutama tekanan ekonomi, sangat penting. Pemantauan berkelanjutan oleh BKKBN dan instansi terkait diperlukan untuk mengantisipasi potensi dampak terhadap angka fertilitas nasional.

Lebih lanjut, diperlukan edukasi publik yang komprehensif untuk menciptakan pemahaman yang lebih baik tentang pilihan reproduksi dan tantangan ekonomi yang dihadapi generasi muda saat ini.

Exit mobile version