Israel mengklaim rangkaian serangannya terhadap Iran telah berhasil menghambat program nuklir Teheran selama beberapa tahun. Klaim ini disampaikan menyusul gencatan senjata yang rapuh setelah perang 12 hari antara kedua negara.
Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, menyatakan bahwa kampanye militer terhadap Iran telah memasuki fase baru. Ia menekankan bahwa meskipun pencapaian signifikan telah diraih, upaya untuk membatasi ambisi nuklir Iran belum berakhir.
Klaim Israel: Program Nuklir Iran Terhambat
Pihak militer Israel menyatakan telah berhasil menghambat proyek nuklir Iran selama beberapa tahun. Hal ini juga diklaim berlaku untuk program rudal balistik Iran.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan menyebutnya sebagai “kemenangan bersejarah” bagi Israel. Netanyahu berjanji untuk mencegah Teheran membangun kembali fasilitas nuklirnya yang rusak.
Netanyahu menegaskan kembali komitmen Israel untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Ia menekankan bahwa setiap upaya pembangunan kembali fasilitas nuklir akan dihadapi dengan tindakan tegas dan intensitas yang sama.
Penilaian Berbeda dari Intelijen AS
Berbeda dengan klaim Israel, laporan awal intelijen Amerika Serikat memberikan penilaian yang lebih hati-hati. Laporan tersebut menyoroti dampak terbatas dari serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran.
Empat sumber yang diberi pengarahan tentang temuan intelijen AS melaporkan bahwa serangan tersebut kemungkinan hanya menunda program nuklir Iran selama beberapa bulan. Penilaian ini berasal dari Badan Intelijen Pertahanan (DIA), bagian dari Pentagon.
Laporan intelijen AS menyimpulkan bahwa serangan tersebut gagal menghancurkan komponen inti program nuklir Iran. Hal ini berbeda dengan klaim Presiden Donald Trump yang menyatakan bahwa situs nuklir utama Teheran telah “dimusnahkan sepenuhnya”.
Reaksi Iran dan Dampak Geopolitik
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengumumkan berakhirnya perang 12 hari dengan Israel. Ia menegaskan bahwa Iran akan terus berupaya untuk memanfaatkan tenaga nuklir untuk tujuan damai.
Pernyataan ini menunjukkan tekad Iran untuk mempertahankan program nuklirnya, meskipun menghadapi tekanan internasional yang signifikan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap tinggi, mengingat klaim yang saling bertentangan dari berbagai pihak.
Konflik ini memiliki dampak yang luas terhadap stabilitas regional dan keamanan global. Perkembangan selanjutnya perlu dipantau dengan cermat untuk menilai dampak jangka panjang dari serangan militer dan implikasinya terhadap keseimbangan kekuatan di wilayah tersebut.
Ketegangan antara Israel dan Iran masih tinggi, membutuhkan diplomasi dan dialog konstruktif untuk mengurangi risiko konflik lebih lanjut. Pemantauan ketat terhadap perkembangan di lapangan sangat penting untuk mencegah eskalasi.
Kesimpulannya, klaim keberhasilan Israel dalam menghambat program nuklir Iran perlu dilihat secara kritis, mengingat perbedaan penilaian dari intelijen AS. Ketegangan antara kedua negara tetap tinggi, menuntut solusi diplomatik untuk mencegah eskalasi konflik dan memastikan stabilitas regional.