Pemerintah Iran telah mengkonfirmasi serangan terhadap tiga fasilitas nuklir utama negara tersebut. Serangan yang diduga dilakukan Amerika Serikat ini menyasar fasilitas Fordow, Isfahan, dan Natanz. Kejadian ini memicu kekhawatiran global akan potensi dampaknya.
Meskipun tidak mengenai reaktor nuklir aktif, kejadian ini menimbulkan perbandingan dengan bencana nuklir Fukushima dan Chernobyl. Namun, para ahli meyakinkan bahwa dampaknya akan berbeda signifikan.
Serangan terhadap Fasilitas Pengayaan Uranium Iran
Tiga fasilitas yang diserang merupakan pusat pengayaan uranium, bukan reaktor nuklir. Fasilitas ini tidak menyimpan limbah radioaktif tingkat tinggi dan tidak dirancang untuk menghasilkan listrik.
Hal ini disampaikan oleh Profesor Pete Bryant, ahli perlindungan radiasi dari University of Liverpool. Ia menegaskan bahwa risiko ledakan atau pelelehan seperti yang terjadi di Chernobyl sangat kecil.
Risiko dan Bahaya Potensial
Meskipun tidak setara dengan bencana Chernobyl, risiko tetap ada. Uranium yang digunakan memang radioaktif, namun jenisnya memancarkan partikel alfa yang lemah.
Partikel alfa tidak dapat menembus kulit manusia. Bahayanya baru muncul jika terhirup atau tertelan. Namun, risiko bahaya kimia lebih perlu diperhatikan.
Bahaya Kimia Uranium Heksafluorida
Uranium heksafluorida (UF6), jika terpapar udara dan kelembaban, dapat membentuk senyawa beracun. Senyawa tersebut antara lain Uranyl Fluoride dan Hydrofluoric Acid.
Kedua senyawa tersebut sangat korosif dan berbahaya jika terhirup. Namun, struktur fasilitas bawah tanah, terutama Fordow yang dilindungi oleh lapisan batuan tebal, dapat meminimalisir kontaminasi.
Dampak Lingkungan Jangka Panjang
Walaupun risiko radiasi relatif rendah, dampak lingkungan akibat ledakan tetap menjadi perhatian. Profesor Timothy Mousseau, pakar efek radiasi terhadap ekosistem dari University of South Carolina, mengungkapkan potensi dampak ekologis jangka panjang.
Bahan bakar nuklir, baik untuk bom maupun reaktor, bersifat radioaktif dan toksik secara kimia. Jika tersebar, dampaknya bisa bertahan hingga ribuan tahun. Ini karena waktu paruh peluruhan uranium-235 lebih dari 700 juta tahun, dan plutonium-239 sekitar 24.000 tahun.
Namun, hingga saat ini, tidak ada peningkatan kadar radiasi di luar fasilitas tersebut. Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Mariano Grossi, mengkonfirmasi laporan otoritas Iran mengenai hal tersebut.
Kesimpulannya, serangan terhadap fasilitas nuklir Iran memang menimbulkan kekhawatiran, namun dampaknya kemungkinan besar tidak akan separah bencana Chernobyl atau Fukushima. Meskipun demikian, potensi bahaya kimia dan dampak lingkungan jangka panjang tetap perlu dipantau dan diwaspadai. Ketiadaan peningkatan radiasi di luar fasilitas tersebut hingga saat ini menjadi kabar yang melegakan.