Picky eater, istilah yang akrab di telinga orangtua, menggambarkan kondisi anak yang sulit makan, memilih-milih makanan, atau menolak makanan baru. Kondisi ini kerap membuat orangtua pusing tujuh keliling mencari solusi. Namun, penyebabnya jauh lebih kompleks daripada sekadar masalah pencernaan. Memahami akar permasalahan ini menjadi kunci utama dalam mengatasinya.
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Gastrohepatologi, dr. Himawan Aulia Rahman, Sp.A, menekankan keragaman faktor penyebab picky eater. Ia menegaskan bahwa masalah pencernaan hanyalah salah satu kemungkinan, bukan satu-satunya penyebab.
Kurangnya Pengenalan Rasa Sejak Dini
Pengenalan rasa makanan sejak dini sangat berpengaruh pada kebiasaan makan anak. Anak yang terbiasa dengan rasa yang monoton cenderung menolak makanan baru dengan rasa berbeda.
Konsistensi rasa makanan yang diberikan sejak bayi hingga balita, sangat berdampak pada penerimaan rasa baru di masa mendatang. Dr. Himawan menjelaskan bahwa keterbatasan rasa yang dikenalkan sejak dini menjadi faktor penting munculnya picky eater.
Masalah pada Saluran Pencernaan
Meskipun tidak selalu menjadi penyebab utama, gangguan pencernaan, khususnya GERD (Gastroesophageal Reflux Disease), dapat berkontribusi pada picky eater.
GERD menyebabkan naiknya asam lambung yang mengiritasi kerongkongan. Akibatnya, anak merasa nyeri saat menelan dan menghindari makan atau minum.
Gejala GERD pada Anak
Anak dengan GERD mungkin menunjukkan beberapa gejala, seperti muntah setelah makan, sering bersendawa, dan rewel saat makan. Konsultasi dengan dokter sangat penting untuk mendiagnosis dan mengelola GERD.
Penyakit atau Kondisi Kesehatan Lainnya
Penurunan nafsu makan seringkali menjadi gejala umum saat anak sakit. Sistem kekebalan tubuh yang sedang melawan penyakit membuat anak lebih sensitif terhadap rasa, tekstur, dan aroma makanan.
Kondisi ini dapat menyebabkan anak menjadi picky eater sementara. Namun, ketika anak sembuh, perilaku pilih-pilih makanan biasanya akan hilang.
Mengatasi Picky Eater
Mengatasi picky eater membutuhkan pendekatan yang holistik. Pertama, pahami penyebabnya. Apakah karena kurangnya paparan rasa, masalah pencernaan, atau kondisi kesehatan lainnya?
Setelah mengetahui penyebabnya, barulah langkah selanjutnya dapat diambil. Beberapa pendekatan yang bisa dilakukan antara lain: memberikan makanan saat anak benar-benar lapar, menyajikan makanan dalam porsi kecil, dan melibatkan anak dalam proses memasak dan penyiapan makanan.
- Berikan makanan bergizi seimbang, walaupun dalam porsi kecil.
- Libatkan anak dalam proses pemilihan dan penyiapan makanan.
- Jangan paksa anak untuk menghabiskan makanannya.
- Berikan contoh teladan dengan menunjukkan kebiasaan makan yang sehat.
- Bersabar dan konsisten dalam menerapkan strategi mengatasi picky eater.
Jika perilaku picky eater berdampak negatif pada pertumbuhan dan perkembangan anak, seperti berat badan tidak naik atau kurang energi, konsultasi dengan dokter sangat penting. Dokter dapat melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya dan memberikan solusi yang tepat.
Membangun kebiasaan makan yang sehat pada anak membutuhkan kesabaran dan konsistensi dari orang tua. Penting untuk diingat bahwa setiap anak berbeda, dan pendekatan yang berhasil untuk satu anak mungkin tidak berhasil untuk anak lainnya. Yang terpenting adalah menciptakan lingkungan makan yang positif dan mendukung. Dengan pemahaman yang baik tentang penyebab dan strategi penanganan yang tepat, orang tua dapat membantu anak mereka mengatasi picky eater dan tumbuh dengan sehat.