Site icon Metro Kompas

Pacu Jalur: Ritual, Kearifan Lokal, dan Pesona Perahu Tradisional

Pacu Jalur: Ritual, Kearifan Lokal, dan Pesona Perahu Tradisional

Sumber: Suara.com

Festival Pacu Jalur di Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, belakangan ini menarik perhatian luas, tak hanya karena keunikannya sebagai tradisi perahu panjang, tetapi juga karena viralnya tren “aura farming” di media sosial, khususnya TikTok. Banyak pengguna meniru gerakan tarian seorang anak yang disebut “Anak Coki” selama perlombaan.

Namun, di balik viralnya tarian tersebut, tersimpan proses panjang dan sakral dalam pembuatan perahu Jalur yang jarang tersorot. Tradisi ini menyimpan nilai-nilai kearifan lokal yang kaya dan patut dijaga.

Tradisi Sakral di Balik Pacu Jalur Kuansing

Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan perahu biasa. Ini adalah warisan budaya yang sarat makna dan filosofi turun-temurun.

Pemilihan kayu hingga proses pembuatannya dipenuhi ritual dan kearifan lokal. Semua tahapan dilakukan dengan penuh penghormatan terhadap alam dan leluhur.

Proses Pembuatan Jalur: Dari Hutan Hingga Sungai

Proses pembuatan perahu Jalur dimulai dari pemilihan pohon terbaik di hutan. Masyarakat setempat menjalankan ritual adat memohon izin kepada alam sebelum menebang pohon.

Kayu yang dipilih bukan sembarang kayu. Kayu harus kuat dan lentur agar perahu dapat melaju dengan ringan di Sungai Kuantan.

Jenis kayu yang umum digunakan antara lain banio dan kulim kuyiang, yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual.

Setelah kayu terpilih, proses pengerjaan melibatkan gotong royong masyarakat dan pengrajin ahli. Mereka menjaga akurasi tradisi dalam setiap tahap, mulai dari melubangi batang kayu hingga mengukir perahu dengan simbol-simbol khusus.

Tahapan pembuatannya melibatkan proses yang rumit dan teliti, memastikan setiap perahu Jalur memiliki kualitas terbaik dan nilai seni tinggi. Hal ini penting untuk mendukung performa dan keindahan visualnya saat berpacu.

Puncak dari proses pembuatan adalah upacara peluncuran jalur ke sungai. Upacara ini sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan nenek moyang.

Gotong Royong dan Kearifan Lokal dalam Pacu Jalur

Pembuatan jalur melibatkan musyawarah kampung yang melibatkan berbagai elemen masyarakat: pemuka adat, tokoh masyarakat, pemuda, dan kaum ibu.

Rapat dipimpin oleh pemimpin adat untuk menyepakati pembuatan jalur baru dan menentukan tahapan selanjutnya. Hal ini mencerminkan nilai kekeluargaan dan kerjasama yang kuat.

Proses pembuatan perahu Jalur ini membutuhkan waktu yang cukup lama, melibatkan banyak orang, dan menuntut keahlian khusus. Ini bukan hanya sekadar membuat perahu, tetapi juga melestarikan tradisi dan nilai-nilai luhur.

Keunikan Pacu Jalur terletak pada perpaduan antara keahlian pembuatan perahu tradisional dengan nilai-nilai kearifan lokal yang kental. Hal ini menjadikan Pacu Jalur lebih dari sekadar perlombaan, tetapi juga sebagai perwujudan identitas budaya Kuansing.

Melalui proses pembuatan dan perlombaan Pacu Jalur, terlihat bagaimana masyarakat Kuansing menjaga dan melestarikan warisan budayanya secara berkelanjutan. Ini menjadi bukti bagaimana tradisi dapat dipadukan dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai-nilai luhurnya.

Di balik kesederhanaan gerakan tarian viral “Anak Coki”, terdapat kekayaan budaya dan kearifan lokal yang begitu mendalam. Pacu Jalur lebih dari sekadar perlombaan; ia adalah manifestasi keuletan, kearifan, dan persatuan masyarakat Kuansing yang patut dihargai dan dilestarikan.

Exit mobile version