Pasar-pasar legendaris Jakarta, seperti Pasar Baru, Pasar Gembrong, dan Pasar Ular, kini tengah berjuang mempertahankan eksistensinya. Kejayaannya yang dulu dikenal ramai dan meriah kini memudar, meninggalkan jejak berupa toko-toko yang sepi dan pedagang yang berjuang bertahan hidup. Ketiga pasar ini berharap adanya intervensi pemerintah untuk menghidupkan kembali kejayaannya.
Kondisi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh pusat-pusat perdagangan tradisional di tengah perkembangan zaman. Persaingan dengan pusat perbelanjaan modern dan dampak pandemi Covid-19 telah memberikan pukulan telak terhadap kelangsungan hidup mereka.
Memudarnya Kejayaan Pasar Baru: Antara Kenangan dan Kenyataan
Pasar Baru, yang pernah menjadi pusat perdagangan tersibuk di Jakarta, kini terlihat jauh berbeda. Suasana ramai dan hiruk pikuk transaksi jual beli telah berganti dengan kesunyian.
Banyak ruko di Pasar Baru kini disewakan atau dijual. Hal ini menunjukkan semakin meredupnya geliat ekonomi di kawasan tersebut.
Rudi, pemilik toko sepatu kulit yang telah puluhan tahun berjualan di Pasar Baru, mengaku pasrah. Pembeli semakin berkurang, dan hanya pedagang lama dengan pelanggan tetap yang masih bertahan.
Sandra, seorang petugas keamanan di Pasar Baru, menyebutkan pandemi Covid-19 sebagai titik balik yang menghantam keras ekonomi kawasan tersebut. Lebih dari 100 ruko kini tutup atau hanya buka pada momen-momen tertentu, seperti bulan Ramadhan.
Baharu, pedagang uang kuno sejak tahun 1985, juga merasakan dampaknya. Penjualan uang kuno koleksinya yang dulu ramai, kini menjadi sangat lesu. Meskipun begitu, ia tetap bertahan demi kecintaannya pada sejarah dan budaya.
Pasar Gembrong: Surga Mainan yang Kini Sepi
Nasib Pasar Gembrong, yang dulu dikenal sebagai surga mainan anak-anak, tak jauh berbeda dengan Pasar Baru. Kehidupan pasar ini sangat bergantung pada aktivitas sekolah-sekolah di sekitarnya.
Saat sekolah libur, Pasar Gembrong ikut sepi. Sebagian besar pembeli di pasar ini adalah pedagang kecil yang memasok mainan ke warung dan sekolah.
Agus, seorang pedagang mainan di Pasar Gembrong, mengenang masa kejayaannya di lokasi lama sebelum relokasi akibat proyek Tol Becakayu dan pandemi Covid-19. Dulu, Pasar Gembrong ramai dikunjungi berbagai kalangan, termasuk artis.
Relokasi dan pandemi telah membuat penghasilan Agus merosot tajam. Akses yang lebih sulit ke lokasi baru juga membuat pembeli beralih ke tempat lain.
Ifah, pedagang boneka di Pasar Gembrong, juga merasakan hal yang sama. Meskipun penjualan daring dan pelanggan tetap masih membantu, kondisi di lapangan tetap sepi.
Pasar Ular: Kisah Nostalgia yang Memudar
Pasar Ular di Jakarta Utara juga mengalami nasib serupa. Dahulu, pasar ini ramai dikunjungi berbagai kalangan untuk berburu pakaian bermerek dengan harga miring.
Alfons, pedagang yang sudah puluhan tahun berjualan di Pasar Ular, mengenang masa keemasan pasar tersebut pada masa pemerintahan Soeharto dan SBY. Artis dan pejabat sering berbelanja di sana.
Kini, Pasar Ular terasa lengang. Banyak toko yang tutup, dan hanya segelintir pembeli yang datang. Pandemi Covid-19 dan pergantian pemerintahan disebut sebagai faktor penyebab kemunduran tersebut.
Upaya Revitalisasi Pasar Baru: Harapan Baru bagi Pasar Tradisional
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana untuk membenahi kawasan Pasar Baru. Gubernur Jakarta, Pramono Anung, menyatakan akan melakukan perbaikan Pasar Baru setelah revitalisasi Blok M hampir selesai.
Sebagai langkah awal, akan dilakukan pembersihan kawasan Pasar Baru. Setelahnya, akan dilanjutkan dengan revitalisasi sarana dan prasarana, termasuk transportasi di sekitar kawasan.
Semoga upaya revitalisasi ini dapat menghidupkan kembali Pasar Baru dan menjadi contoh bagi revitalisasi pasar-pasar tradisional lainnya di Jakarta. Keberhasilan ini akan bergantung pada perencanaan yang matang dan kerjasama semua pihak. Keberadaan pasar-pasar tradisional ini bukan sekadar tempat berdagang, melainkan juga bagian penting dari sejarah dan budaya Jakarta yang perlu dilestarikan.