Banjir melanda Jabodetabek beberapa hari terakhir, mengakibatkan kerugian dan ketidaknyamanan bagi warga. Tingginya intensitas hujan dan pasang maksimum air laut memaksa ratusan warga mengungsi. Sebagai respons atas situasi darurat ini, pemerintah mengambil langkah cepat dengan menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC).
Operasi ini melibatkan kolaborasi antara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan BPBD DKI Jakarta. Tujuannya untuk mengurangi intensitas hujan dan meminimalisir risiko banjir lebih lanjut di wilayah Jabodetabek.
Operasi Modifikasi Cuaca: Upaya Mengatasi Banjir Jabodetabek
BMKG, BNPB, dan BPBD DKI Jakarta resmi memulai operasi modifikasi cuaca (OMC) pada Senin, 7 Juli 2025. Operasi ini direncanakan berlangsung hingga 11 Juli 2025, dengan pusat komando di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Tim masih dalam tahap persiapan teknis pelaksanaan. Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menyatakan bahwa operasi dimulai siang hari karena persiapan yang membutuhkan waktu. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers virtual.
Operasi difokuskan pada wilayah hulu Jabodetabek, terutama Jawa Barat dan DKI Jakarta. Daerah ini dinilai paling rentan terhadap limpasan air dari daerah hulu.
Satu pesawat dari BNPB akan digunakan sebagai armada penyemaian awan. TNI AU siap menambah armada jika diperlukan, bergantung pada intensitas hujan dalam beberapa hari mendatang.
Antisipasi Banjir: Fokus pada Hulu Jabodetabek
Fokus utama OMC adalah mengurangi potensi banjir di wilayah hulu Jabodetabek. Wilayah ini mengalami peningkatan curah hujan ekstrem selama sepekan terakhir.
Peningkatan curah hujan ini berdampak signifikan pada sejumlah daerah di Jabodetabek. Hal ini menyebabkan genangan air dan banjir di beberapa titik.
Dengan memperkuat cakupan operasi di Jawa Barat dan DKI Jakarta, diharapkan dampak banjir dapat diminimalisir. Upaya ini penting karena kedua daerah tersebut paling berisiko.
Dampak Banjir dan Peringatan Dini
Hujan deras sejak Sabtu, 5 Juli 2025, ditambah pasang maksimum air laut, telah menyebabkan naiknya status beberapa pintu air dan pos pantau.
Akibatnya, 100 RT dan 3 ruas jalan di DKI Jakarta terendam banjir. Sebagian warga terpaksa mengungsi ke 17 titik pengungsian yang telah disiapkan.
BMKG telah mengeluarkan peringatan dini banjir pesisir (rob) yang berlaku sejak 4 hingga 13 Juli 2025. Peringatan ini mempertimbangkan kombinasi curah hujan tinggi dan pasang laut akibat fase Perigee dan bulan baru.
Situasi ini menuntut kesiapsiagaan semua pihak dalam menghadapi potensi banjir susulan. Kerjasama antar lembaga pemerintah sangat penting untuk penanganan bencana.
Pemerintah terus berupaya memberikan bantuan kepada warga terdampak banjir. Upaya mitigasi bencana terus ditingkatkan untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Operasi modifikasi cuaca diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam mengurangi intensitas hujan dan meminimalisir risiko banjir. Semoga upaya ini dapat meringankan beban warga yang terdampak.